Analisa Usaha Budidaya Bawang Merah

 


Bawang merah, salah satu tanaman yang menjadi bumbu masak utama bagi masyarakat Indonesia. Tak heran, kebutuhan terhadap komoditas pertanian yang satu ini terbilang tinggi dan stabil. Setiap tahunnya, Indonesia diperkirakan membutuhkan 100ribuan ton bawang merah untuk memenuhi kebutuhan penduduknya, jumlah yang besar ya sahabat.

Dengan kondisi kebutuhan yang tinggi, tentunya membuka peluang bagi kita petani untuk ikut memenuhi jumlah permintaan pasar tersebut. Alasan inilah yang melatarbelakangi dosen petani menulis artikel "Analisa Usaha Budidaya Bawang Merah". Silahkan disimak tulisannya, dan silahkan dibagikan jika dirasa bermanfaat.

a. Gambaran Umum Bawang Merah
Bawang merah dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 - 1000 mdpl, namun dari banyak penelitian menunjukkan bahwa bawang merah lebih optimal pada ketinggian tidak lebih dari 450 mdpl. Tanaman berumur pendek ini membutuhkan penyinaran matahari maksimal, dan suhu lingkungan pada angka 26-32 derajat celcius. Untuk memulai budidaya, petani biasanya menanam umbi bawang merah yang telah disiapkan untuk menjadi bibit, meski nyatanya bawang merah juga dapat ditanam lewat biji.

Masa budidaya tanaman bawang merah relatif singkat. Pada usia 60 hari setelah tanam, bawang merah sudah siap untuk dipanen. Masa panen dapat dilihat dari ciri fisik tanaman, umbi yang menyembul dan daun bawang merah yang merebah menjadi tanda bahwa waktu panen telah tiba. Singkatnya masa budidaya ini, menjadi daya tarik bagi petani dan pelaku usaha pertanian mengingat cepatnya perputaran uang pada tanaman ini.

Perawatan tanaman bawang merah selama masa budidaya tergolong cukup mudah. Sepanjang periode budidaya, pemupukan susulan dilakukan 2 kali. Untuk hama dan penyakit yang dapat menyerang bawang merah diantaranya adalah ulat bawang; ulat grayak; thrips dan layu fusarium. Pencegahan dan pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida dan perlakuan pra-tanam yang baik.


b. Tahapan Budidaya Bawang Merah
Budidaya bawang merah dilaksanakan dengan beberapa tahapan untuk memperoleh hasil panen yang optimal. Seperti budidaya pada tanaman lain, fase awal yang dilakukan adalah pengolahan lahan untuk penanaman bawang merah. Penggemburan penting dilakukan agar umbi bawang merah dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Penggemburan dilakukan dengan membajak lahan atau mencangkul dengan kedalaman 30cm. Selanjutnya, tanah yang telah gembur dibuatkan bedengan tanam berukuran 100cm hingga 120cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan, sementara pemisah bedengan tanam, dibuatkan parit seukuran 50cm hingga 60cm. 

Bedengan tanam dapat ditutup dengan plastik mulsa, atau tanpa plastik mulsa dengan konsekuensi akan bekerja lebih untuk penyiangan gulma. Sebelum pemasangan plastik mulsa, pupuk dasar ditabur pada bedengan yang telah dibentuk. Pupuk dasar yang diberikan untuk tanaman bawang merah adalah pupuk kandang, pupuk kompos dan TSP. Takaran pupuk kandang yang diberikan pada masa sebelum tanam ini adalah 5-10 ton per hektar, pupuk kompos 1-3 ton per hektar, dan TSP 100-200kg per hektar.

Pemupukan susulan dilakukan saat bawang merah berusia 15 hari setelah tanam dan 30 hari setelah tanam. Pupuk susulan dapat diberikan dengan cara pengocoran ataupun menabur di sekitar lubang tanam bawang merah. Pupuk yang digunakan adalah Urea, KCl dan ZA. Penambahan pupuk kompleks seperti NPK Mutiara juga dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.


c. Modal dan Peluang Keuntungan
Untuk membudidayakan bawang merah dengan bibit 1 kwintal, dibutuhkan modal sebanyak

Sahabat dosen petani, itu tadi ulasan umum tentang analisa usaha budidaya bawang merah. Jika sahabat ingin tau lebih jelas dengan sajian video, sahabat bisa klik link youtube di bawah ini.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak